Sylviana Murni dan Pose Jempol ke Bawah 0



Masih ingatkan Seworders dengan insiden jempol Sylviana Murni yang menunjuk ke bawah di tengah acara debat resmi Pilkada DKI Jakarta yang ke dua? Saat itu pak Ahok sedang menjawab pertanyaan dari paslon nomor satu, begitu bel tanda waktu habis berbunyi,  pak Ahok pun berhenti dan langsung bu Sylvi mengarahkan jempol tangan nya ke bawah sambil mukanya meringis.

Ketika ditanya alasannya memberikan jempol ke bawah, ibu Sylvi menjawab “Saya sedih karena enggak sesuai kenyataan. Saya tahu soal itu, karena saya kan orang dalam”
Gawat, sedih kog jempolnya langsung terbalik?Tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak sesuai dengan keinginan bu Sylvi ya? Bagaimanapun gestur tersebut, apalagi dibuat di depan TV nasional yang sedang siaran langsung, sontak membuat banyak orang terkejut.

Menurut saya, gestur tersebut merupakan bentuk ketidak puasan terhadap jawaban pak Ahok. Tapi karena waktu sudah habis, bu Sylvi yang tidak bisa membuat bantahan, lalu merasa emosi, tidak tahan, eh menukik lah sang jempol ke bawah, hihihi
Hari ini akun Twitter saya mendapat retweet dari teman yang berasal dari akun timses Agus Sylvi. Berikut kutipan-nya:

“Gerilya lapangan mpok @sylviana_murni di Muara Kamal. Inilah sebagian kecil fakta bahwa Jakarta hrs dibangun dgn prinsip adil”
Yang menarik perhatian saya adalah foto yang diposting di cuitan tersebut. Tampak ibu Sylvi sedang berdiri di depan satu rumah yang tampak kosong dan sangat kotor, sambil berpose dengan jempol tangan yang mengarah ke bawah (terbalik). 

 Berikut fotonya :

Luar biasa sekali, dalam kurun waktu yang terbilang singkat, sudah dua kali saya melihat ibu Sylvi berpose jempol ke bawah. Ah, itu kan pose biasa. Benarkah biasa? Kalau memang biasa, bagaimana dengan kandidat paslon lain? Sudah berapa kali pose jempol ke bawah yang mereka perlihatkan? Seingat saya tidak pernah.

Ada beberapa kejanggalan dalam foto tersebut:

1. Apa maksudnya berpose di depan rumah kosong? Dimana-mana rumah kosong pasti terbengkalai dan kotor.

2. Jempol ke bawah itu ditujukan ke siapa? Sebagai saingan, tentu maunya ditujukan ke pak Ahok ya? Hihihi… Bu, bu, lupa ya kalau ibu juga termasuk bagian dari Pemprov DKI Jakarta yang tengah berkuasa? Tapi kan jabatan bu Sylvi Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan, ga nyambung donk dengan rumah kosong terbengkalai itu. Lah, begitu juga dengan pak Ahok, kalau mau dirunut, seharusnya Ketua RT nya dulu yang ditanya, lalu Ketua RW, lalu baru Lurah. Ini tiba-tiba karena sedang Pilkada, langsung mau membidik pak Ahok pula, aih aiiih

Lagipula, bagaimana rasanya kalau misalnya ibu Sylvi yang saya kasih jempol terbalik?
Jempol terbalik saya yang pertama, untuk suami ibu, bapak Gde Sardjana yang sudah mengakui pernah beberapa kali memberikan aliran dana ke tersangka makar.

Jempol terbalik saya yang kedua, untuk ibu sendiri yang sudah beberapa kali dipanggil Kepolisian untuk menjadi saksi KORUPSI pembangunan Mesjid Al Fauz dan dana Bantuan Sosial.
Jempol terbalik saya yang ketiga untuk ibu Sylvi yang bukan asyik jualan program, malah asyik ‘jualan kerudung’. Padahal sebelum menjadi Cawagub, kerudung bu Sylvi sendiri masih putus nyambung.

 

Jempol terbalik saya yang ke-empat untuk ibu Sylvi yang menjanjikan perayaan Imlek di Monas tanpa mencari tahu dulu sebelumnya, bagaimana adat istiadat dan kebiasaan seputar perayaan Tahun baru Imlek tersebut.

Jempol terbalik saya yang ke lima untuk dua kali jempol ibu Sylvi yang mengarah ke bawah. Apapun alasannya.

Maaf bu Sylvi, kalau boleh kasih saran, jangan terlalu sering menukik-kan jempol ke bawah. Budaya Indonesia yang santun (katanya) belum terbiasa melihat gestur tersebut, nanti orang-orang malah ilfil (ilang feeling) duluan. Untuk saya sendiri secara pribadi, hanya dengan melihat ‘pose tidak biasa’ tersebut dua kali, sudah cukup untuk membuat saya mantap untuk TIDAK memilih ibu, (dan pasangan ibu). Salam damai, peace!

{Rjpkr88newsflash}


Komentar