
Salah satu keberhasilan Anies-Sandi melaju ke putaran kedua adalah program “oke oce”nya, yakni one kecamatan one center of entrepreneurship. Program Sandi ini dianggap mampu menarik sejumlah suara. Ini lebih realistis ketimbang program bagi-bagi uangnya Agus untuk tiap RW. Tapi, kita perlu bertanya, apakah program oke-oce ini realistis dan terukur? Atau hanya pemanis yang melengkapi bualan dalam Pilkada?
Sebelum mengorek tentang beberapa
kejanggalan dari program oke-ocenya Sandi, perlu kita telusuri rekam
jejak Sandi sebagai pengusaha seperti apa? Rekam jejak adalah tolok ukur
untuk melihat komitmen seseorang hari ini dan kedepannya. Ini sangat
penting, sebab bagaimana seorang pemimpin dapat berpihak kepada rakyat,
jika rekam jejaknya tak memperlihatkan semua itu.
Ada sebuah kasus yang dulu pernah menyeret
nama Sandi Uno. Kasus ini tentang dugaan penipuan yang telah dilakukan
Uno sehingga merugikan negara hingga Rp 115 miliar. Kasus ini menarik
untuk ditelusuri karena hingga kini, Uno tidak pernah tersentuh KPK.
Sepertinya, kasusnya dipeti-eskan oleh sejumlah pihak yang punya
kepentingan dengan Uno.
Kejadian bermula pada tahun 1996 saat
Pertamina dan PT Pandan Wangi Sekartaji (PWS) menandatangi proyek
pembangunan Depo Minyak di Balaraja. Dikarenakan PWS tidak memiliki
uang, maka digandenglah perusahaan Van Der Horst (VDH) milik Yohanes
Kotjo. Yang jadi jaminan adalah sertifikat tanah bernomor HGB 031.
Saat terjadi krisis moneter tahun 1997,
VDH bangkrut, sehingga pembangunan Depo Minyak di Balaraja mangkrak.
Semua aset milik VDH dilelang. Pengusaha Edward Soeryadjaya (bapak
angkat Sandi) memenangi lelang, dan memperoleh sertifikat HGB 031.
Krisis moneter yang terjadi juga
mempengaruhi PWS. Akhirnya, pada tahun 2006, perusahan tersebut dibeli
oleh Sandi Uno senilai US$ 1,5 juta. Saat memimpin perusahan tersebut
Sandi menggugat Pertamina untuk memberikan uang ganti rugi atas
pembatalan proyek yang dinilainya sepihak itu.
Akhirnya, Pertamina pun menyerah setelah
didesak oleh Sandi, sampai-sampai kasus ini dibawa ke Badan Arbitrase
Nasional Indonesia (BANI). Dan akan membayar uang sejumlah US$ 12,8 juta
kepada PWS dengan syarat PWS memberikan semua kelengkapan proyek
termasuk sertifikat tanah proyek tadi.
Ternyata, PWS hanya menguasai sertifikat
lain, yaitu sertifikat HGB 032, yang merupakan sertifikat pengganti HGB
031, yang dilaporkan hilang. Saat dikabarkan hilang, Edward sebagai
pemilik HGB 031 menyampaikan keterangan kepada Pertamina bahwa
sertifikat tersebut ada padanya. Keterangan dari Edward ini membuat
pihak Pertamina dan PWS kelabakan.
Ternyata, ada dugaan kongkalikong antara
PWS (Sandi Uno) dengan oknum di Pertamina untuk memuluskan pemberian
ganti rugi ke PWS. Mengapa? Sandi tahu bahwa sertifikat 031 itu ada di
tangan Edward karena Edward sendiri yang menunjukkannya. Lalu mengapa
dia mengganti sertifikat tersebut dengan sertifikat palsu, dengan alasan
yang nomor 031 hilang? Lalu, mengapa juga pihak Pertamina masih juga
menandatangani kesepakatan saat Edward telah memberikan keterangan bahwa
sertifikat tersebut ada? Tentu, ada yang sedang bermain mata.
Orang yang melaporkan ke polisi bahwa
sertifikat nomor 031 hilang, kemungkinan orangnya Sandi juga. Orang
tersebut diketahui bernama Dino Sudrajat atas nama PT Jakarta Depot
Satelit (JDS), yang katanya akan menjadi kontraktor pembangunan Depo di
Balaraja. Setelah Edward tahu ada pelaporan kehilangan itu, lalu ia
menyatakan bahwa sertifikat tersebut ada, malah Edward yang dilaporkan
karena telah mencurinya. Ini sangat lucu. Saat ditanya polisi, apakah
pernah melihat sertifikat yang dimaksud, dia malah jawab tidak pernah.
Namun belakangan, Dino dikabarkan meninggal. Entah karena apa.
Demi uang senilai Rp 110 miliar, Sandi rela menikam dari belakang bapak angkatnya sendiri yang telah menyekolahkannya ke Amerika dan terlibat dalam berbagai proses yang mengantarkannya menjadi pengusaha muda yang sukses.
Demi uang senilai Rp 110 miliar, Sandi rela menikam dari belakang bapak angkatnya sendiri yang telah menyekolahkannya ke Amerika dan terlibat dalam berbagai proses yang mengantarkannya menjadi pengusaha muda yang sukses.
Pihak Pertamina pun lepas tangan. Mereka
hanya mempunyai kewajiban membayar ganti rugi. Mereka tidak mau masuk ke
dalam pusaran sengketa ini jauh lebih dalam. Padahal, sudah berapa
miliar uang negara yang keluar dari hasil penipuan yang dilakukan oleh
Sandi.
Saya jadi bertanya-tanya, mengapa Sandi
bisa selicin itu? Mengapa kasus penipuan yang telah merugikan negara ini
tidak bisa sampai ke meja hijau? Laporannya masuk tapi tersangkut entah
dimana. Proyek dan kasus korupsinya akhirnya sama-sama mangkrak. Entah
kapan akan dibongkar.
Lalu bagaimana kaitannya dengan oke-oce nya Sandi?
Ahok pernah berkomentar tentang program
oke-oce nya Sandi yang katanya akan mencetak 200 ribu pengusaha. Kata
Ahok ini sangat mustahil. Di dunia saja, tingkat keberhasilan mencetak
pengusaha hanya 10 persen dari jumlah calon pengusaha. Di Indonesia nggak akan jauh dari itu. Jadi, untuk mencetak 200 ribu pengusaha, harus dikumpulkan 2 juta calon pengusaha.
Menurut Ahok, perlu dana sekitar Rp 2
triliun untuk menjalankan pelatihan pengusaha. Katanya, modalin tiap
orang 1 juta saja sudah sampai angka 2 triliun. Bagaimana jika modalnya
10 juta? Kan jadinya 20 triliun. Kan nggak mungkin buka usaha cuma modal 2 juta.
Dari statistik yang dibangun Ahok,
kesimpulannya adalah program oke-oce nya Sandi terlalu mengada-ada.
Program tersebut tidak dibangun di atas perhitungan yang akurat dan data
yang tepat. Tapi bagi Ahok, kalau itu cuma buat kampanye, yah oke-oke
saja. Karena kampanye kan banyaknya cuma berjanji.
Saya melihat sosok Uno yang santun, kalem
juga kini terlihat lebih islami, ternyata tersimpan suatu rencana yang
titik-titik untuk Jakarta. Coba lihat program rumah murah untuk rakyat
yang tanpa DP. Itu mustahil dilakukan. Akhirnya, mereka ralat dengan
DPnya diangsur. Rumah murah dengan harga Rp 300 juta di Jakarta dimana?
Ini pun mengada-ada hanya karena ingin menang Pilkada.
Belum lagi klaim sepatu hasil gemblengan
oke-ocenya Sandi. Bir pletok. Tempat hiburan malam bersyari’ah. Dan
aneka fantasi “bisnis” yang menggairahkan orang-orang susah. Semua tidak
realistis. Dan itu hanyalah umpan untuk menarik suara masyarakat yang
telah terperdaya dengan retorika politik Paslon 3.
Dari program kampanye dan rekam jejaknya,
sulit melihat ketulusan Sandi Uno untuk Jakarta yang lebih baik lagi.
Bapak angkatnya saja ia tikam dari belakang, apalagi warga Jakarta yang
tidak punya hubungan darah apapun dengannya. Jadilah pemilih yang
cerdas. Pilahan anda menentukan Jakarta 5 tahun kedepan.
{Rjpkr88newsflash}
Komentar
Posting Komentar